lukisan CINTA

Berbicara tentang cinta adalah satu di antara beberapa hal-hal yang sangat ku senangi. Setiap orang punya pengertian sendiri-sendiri tentang cinta. Banyak yang bilang kalau cinta itu peduli, memberi, setia, dllsb (dan lain-lain saya bingung). En fait, cinta bisa berarti apa saja, meski aku hanya melihat satu cinta.

Baca lebih lanjut

Iklan

lembaran-lembaran kosong (2)

Saat-saat turun hujan selalu jadi memori yang indah bagiku. Di masa kecilku, waktu hujan adalah saat yang paling tepat untuk duduk di teras rumah, di kelilingi bunga-bunga yang ditanam Ibu. Damai sekali rasanya mendengarkan rinai hujan yang jatuh di atap teras yang tidak berplafon. Bagiku suara alam seperti itu adalah musik terindah yang pernah ku dengar sepanjang hidupku.

Baca lebih lanjut

Hujan Cinta

Sudah lama sekali aku tak lewat di sini.

Musim panas yang sumringah telah berganti dengan musim gugur yang muram, mengisi hari-hariku dengan angin dan hujan yang tak berhenti. Saban malam hujan turun, dan aku lalu termenung di teras, mengingat seseorang, seseorang yang selalu dekat di hatiku betapapun jauhnya jarak yang terbentang antara aku dan dia. Tapi tentu aku tak bisa berlama-lama duduk atau bermain gitar di situ. Cuaca sudah mulai menggigil, dan lebih nyaman untuk selalu bersembunyi dalam kehangatan kamar, di depan Tivi atau Kompi.

Baca lebih lanjut

analogi Hati

bila Hati adalah Sungai
pastilah Ia rindukan Pantai untuk bermuara
Alirnya jangan sampai terbendung
khawatir Luapnya membawa Petaka

bila Hati adalah gumpalan Awan
tentulah Ia perlukan Langit untuk bersemayam
Damainya jangan terusik Angin
karena seringkali Awan menjadi Hujan

bila Hati adalah Bumi
pastilah Ia butuhkan siraman Hujan
tuk mekarkan Tetumbuhan dan sokong Kehidupan
jika Ia kering …musnahlah Kehidupan

bila Hati adalah Air
jangan biarkan Ia mengeruh
karena… dengan Beningnya
Ia sejukkan setiap Kehidupan

bila Hati adalah Api
membakar… menyala… membara
jangan biarkan Baranya membesar
karena Kecilnya… Ia menjadi Kawan

(réplique de My Friend, Uyan – Cairo, 29/05/2005)

bicara dalam diam

. . .
bibir bernyanyi Tah
benak terkesima Kah
kesadaran membatin Lah

lalu kaku bisu dalam bicara
lalu lugas teriak dalam diam

heh…!
untuk apa menyimpan kebenaran?
di balik apa menyembunyikannya?

12 Mei, selepas shalat subuh

Banyak kiranya yang ingin aku tuliskan, tapi di saat ini hanya ada satu pikiran yang tak mau pergi walau sejenak dari kepalaku.

Ya, semua ini tentang dia. Selama setahun ini, aku selalu berpikir bahwa dialah belahan jiwaku yang dahulu Tuhan pisahkan untuk ku temukan kembali. Tuhan pula yang telah mengatur dengan indah semuanya. Pertemuanku yang hanya sekali tak juga mampu memupuskan indah bayangnya selama setahun ini.

Baca lebih lanjut

senja Darrasa

. . .
menatapmu lekat senja tadi, kisahmu beralih
dan aku tak pernah berhenti memujamu,
antara harap dan sadarku, lahir pada
lambang-lambang yang terus berbunga
cinta dan kuntum jiwa yang tak juga
ku petik, di usiaku, meski kisahmu ada di jelang hari-hariku.

(untukHujan, yang suaranya selalu menenteramkan resah bumiku)