lembaran-lembaran kosong (2)

Saat-saat turun hujan selalu jadi memori yang indah bagiku. Di masa kecilku, waktu hujan adalah saat yang paling tepat untuk duduk di teras rumah, di kelilingi bunga-bunga yang ditanam Ibu. Damai sekali rasanya mendengarkan rinai hujan yang jatuh di atap teras yang tidak berplafon. Bagiku suara alam seperti itu adalah musik terindah yang pernah ku dengar sepanjang hidupku.

Di saat seperti itu, biasanya aku akan membawa kertas dan beberapa alat gambar sederhana hadiah dari Bapak. Waktu kecil dulu, Bapak adalah orang yang paling pandai mengagumi hasil gambarku. Aku punya beberapa obyek gambar favorit, di antaranya adalah panorama tembok Keraton Kesultanan Buton yang terletak di atas bukit di depan rumahku. Dari balik tirai hujan itu, aku selalu mengagumi asrinya suasana bukit itu. Obyek lain yang jadi favoritku adalah menggambar foto keluarga. Seingatku, headshot yang paling bagus yang pernah ku buat adalah gambar Ibu.

Waktu hujan juga adalah waktu yang paling mengasyikkan untuk bermain dengan teman-teman. Kalau hujan yang turun cukup deras, air akan tertampung di halaman berumput, kadang hingga sebatas mata kaki, bahkan tak jarang lebih. Ada keasyikan tersendiri untuk bermain bola di surface yang unik seperti itu; kita takkan ragu-ragu untuk melompat, tackling, sliding, diving, hanya agar air bercipratan ke mana-mana. Kadang juga kami hanya berlari-lari di jalanan, melepas baju dan menentengnya bersama sendal jepit di tangan.

Aku juga suka sekali akan musik, beberapa teman bermainku sudah bisa bermain gitar atau piano sejak umur 8-9 tahun. Seingatku, saat umur 7 tahunan, ada beberapa lagu yang jadi kesukaanku, karena Kak Zen, kakak sulungku, sering sekali memutarnya: Love Hurt-nya Nazareth, Always Somewhere-nya Scorpions, Love Me, Somebody-nya Bad Company, Angie-nya Rolling Stones, beberapa lagu Beatles, Deep Purple, dan banyak lagi. Selain itu, aku juga suka sekali pada lagu-lagu Iwan Fals, terutama album Galang Rambu Anarki-nya. Aku ingat sampul album itu adalah gambar Iwan di balik terali. Kata kakakku, karena berani bicara tentang kebenaran, maka dia dipenjarakan. Kak Zen adalah orang yang pertama kali memperkenalkan kepadaku nilai-nilai keadilan dan cinta dalam arti yang lebih extended.

Soal kesukaanku pada musik ini mungkin turunan dari Bapak. Bapak yang juga suka musik selalu mendorongku agar mau masuk kursus biola. Ga heran, genre musik yang paling disukai Bapak adalah keroncong. Dulu aku tidak begitu suka keroncong, namun setelah hidup di luar negeri dan sering mendengar musik asli mancanegara, aku jadi paham kalau keroncong sebenarnya kaya sekali akan nilai kultural dan sejarah, juga, parlant tecnique, rata-rata aransemennya menarik. Adapun Ibu, dia lebih suka kalau aku kursus matematika dan lebih serius soal menggambar. Aku tidak memilih keduanya, aku memilih gitar. Aku mulai bisa main gitar saat kelas lima SD. Waktu itu aku tidak punya gitar sendiri, jadi sering meminjam gitar Kak Didin, tetangga sebelah rumahku. Kadang juga Ridwan, kakak sepupuku yang tinggal di kecamatan sebelah, menitipkan gitarnya di rumahku. Suasana hujan selalu jadi paduan yang paling serasi untuk bermain gitar. Apalagi kalau rumah lagi sepi, aku akan duduk di teras, dikelilingi bunga-bunga tanaman Ibu.

Lalu masa-masa adolescence -akhir-akhir SD dan semasa SMP- aku isi dengan buku, musik dan olahraga. Aku suka sekali olahraga permainan, meski kurang tertarik pada olahraga perlombaan. Aku juga suka bermain catur. Semua laki-laki di keluargaku suka bermain catur. Si Bungsu Arie malah suka dibeliin papan catur baru untuk hadiah ulang tahunnya. Untukku Bapak lebih sering membelikan bola kaki. Aku dan ketiga kakak laki-lakiku (Zen, Luthfy dan Almarhum Didi) terbilang pemain yang boleh diandalkan di kalangan anak-anak sekampung waktu itu. Selain itu, aku masuk beberapa klub olahraga. Ya, “klub”, meski itu cuman sekedar tempat kumpul-kumpul dengan teman-teman. Sore hari aku ikut latihan takraw bersama teman-teman, kadang bareng pemain-pemain daerah. Malamnya, berlatih bulutangkis. Di hari-hari lainnya aku akan berlatih tenis meja. Aku juga suka akan beladiri, yang sebenarnya lebih karena terdorong teman-teman dan kakak-kakakku. Di akhir pekan, atau kadang sore hari jika tidak ada jadwal latihan lainnya, aku dan teman-teman bertanding sepakbola. Entah mengapa, aku tak pernah benar-benar tertarik untuk menekuni tenis, padahal Bapak setiap sore mengajakku untuk ikut ke lapangan bersamanya. Mungkin karena itulah sekali dua kali Bapak nyempatin diri main bulutangkis hingga malam di tempat aku dan teman-teman sering latihan itu. Masa itu kadang-kadang aku masih suka menggambar, meski aku tahu bahwa hasil gambarku tak begitu bagus.

Lalu aku dihadapkan pada keadaan yang berbeda. Meski dengan berat hati, aku melepas keinginanku untuk masuk SMA TN. Dorongan paling besar untuk melanjutkan ke TN datang dari Kepala Sekolah yang masih terbilang pamanku. Paman bilang kalau pendidikan ala militer lebih cocok untukku. Katanya, karena aku berbakat untuk hal-hal tertentu, dan bisa lebih berkembang di TN. Demikian juga aku melepas harapan Ibu yang ingin aku melanjutkan ke STM dan menjadi arsitek, karena katanya aku bagus di matematika dan menggambar. Bapak ingin aku masuk MAPK yang saat itu merupakan proyek baru. Standar masuk ke sekolah proyek ini memang cukup tinggi, plus seleksi masuk yang cukup ketat. Setiap tahunnya, MAPK menerima dan memberikan beasiswa kepada 40 orang siswa baru. Di Indonesia Timur, satu-satunya MAPK ada di Makassar. Jadi pantas saja jika seleksi masuk juga cukup ketat. Namun sebagaimana halnya proyek-proyek lainnya waktu itu, MAPK-UP pun tak luput dari KKN. Bersamaku waktu itu turut masuk 41 siswa lainnya, yang berarti melewati jatah fasilitas dari pemerintah. Entah bagaimana bisa, namun itulah kenyataannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan lainnya.

Karena ini adalah sekolah percontohan, perhatianku pun akhirnya lebih banyak tercurah pada buku, kamus, dan … kopi. Ya, KOPI. Aku sudah mulai mereguk kopi saat di SD, mulai akrab dengan kopi dan menikmatinya saat di SMP, dan semakin menjadi bagian dariku di MAPK ini. Waktu itu, lumrahnya aku tidur 4 jam semalam. Namun saking serius belajar, terkadang aku hanya tidur 2 jam semalam. Aku sampai-sampai dibekali kunci perpustakaan, biar bebas masuk ke sana, hatta malam hari. Ada untungnya juga aku jadi setan perpustakaan, aku ingat, pada waktu itu aku mulai bantu-bantu mencarikan referensi skripsi -dan menuliskannya tentunya- untuk beberapa orang mahasiswa. Waktu itu aku belum mengerti kalau ini sebenarnya adalah okupasi yang kurang baik, aku hanya melakukannya karena terdorong rasa ingin mencoba dan ingin membantu orang.

Masa demi masa berlalu, dan meninggalkan kisahnya sendiri-sendiri. Kesenanganku akan olahraga terus berlanjut. Kadang-kadang aku sempatkan untuk bermain bola di lapangan samping rumah, atau di pantai saat musim panas. Satu dua kali aku masih suka ke dojo, sekedar melihat orang-orang latihan karate atau kungfu.

Namun kebiasaanku yang paling terkesan dari masa kecilku adalah kesenanganku memandangi hujan dan mendengarkan derainya. Biasanya aku akan duduk di teras, ditemani kopi dan gitar, kadang buku, dan kadang alat-alat gambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s