Arabia

9 Desember 2004, sekitar jam 10 malam.
Akhirnya pesawat yang mambawaku ke Saudi tiba di Bandara Internasional Jeddah. Seperti pada tujuh tahun yang lalu, aku kembali diterima untuk ikut tenaga musim (temus) haji. Kalau sebelumnya aku dipekerjakan di bagian pemberangkatan di airport Jeddah, kali ini ditugaskan di Kantor Badan Urusan Haji (BUH).

Pertama kali menginjakkan kaki di BUH, kita langsung mengadakan tatap muka, perkenalan, dan… orientasi kerja. Iya, di sini semuanya serba cepat, sementara pada tanggal yang sama teman-teman di Daker mungkin masih asyik saling bertrukar cengkerama. Mungkin mereka berpikir, sayang sekali kalau kita nggak manfaatin potensi sarjana-sarjana luar negeri ini sedapatnya. Lagian kan gaji dah turun…🙂

Aku lalu berkenalan dengan Eki, Ali, Yasin, Andy, Nas, Rahmat, Haris, Dul, Shadiq dan beberapa teman mukimin. Lebih menyenangkan lagi karena aku bertemu kembali dengan Shadiq yang lama tak bertemu setelah sama-sama memimpin Konferensi BKPPI di Kairo beberapa bulan yang lalu. Aku dan enam orang mahasiswa lainnya ditempatkan di sekretariat, dan bekerja sebagai … pembantu umum.🙂 Ya, bagaimana tidak, kalau diibaratkan mekanisme pabrik, kami ibarat bagian serbaguna, menangani mulai produksi barang mentah sampai komoditas istimewa.

Walau advantage finansial mungkin tidak sebaik di Daker (ada 3 Daker dalam PPHI: Jeddah, Madinah dan Makkah), juga walau beban pekerjaan bisa dibilang berat karena kebijakan-kebijakan run-time operasional haji digodok dan ditetapkan di sini, kerja di BUH bisa dibilang paling adventageous. Latar belakang kami yang rata-rata mahasiswa pascasarjana, menuntut kami tuk aktif dan bersumbangsih. Kami kerap dialihposisikan menjadi komentator ataupun analis tidak resmi bagi ancar-ancar thinktank PPHI (Panitia Penyelenggara Haji Indonesia) yang adalah para profesional di bidang masing-masing. Cara ini membuat kami tahu lebih banyak soal lika-liku penyelenggaraan haji. Bekerja di kantor pusat, kami terlibat langsung dalam analisa dan evaluasi operasional. Selain itu, berhubungan dengan bapak-bapak petugas yang rata-rata adalah orang penting di tempat kerja masing-masing di Indonesia, dan menyimak cerita dan nasihat mereka soal pekerjaan, adalah rutinitas yang sangat bermanfaat, paling tidak adalah pembelajaran tentang lingkungan profesi yang sangat baik untukku dan teman-teman.

Salah satu moment yang sangat berkesan adalah saat-saat pengajian singkat sehabis shalat zhuhur berjamaah, di mana setiap orang yang ditunjuk dapat ngomong tentang apa saja, tanpa perlu merasa menggurui ataupun digurui, jadi hanya seperti wahana sharing… Namun, sharing dengan bapak-bapak maupun kolega yang rata-rata sudah banyak makan asam garam kehidupan ini sangat amat berkesan, banyak hal yang dapat ditimba dari sumur pengalaman hidup mereka, juga pengertian keagamaan mereka. Satu dua patah kata dengan satu dua penggal ayat atau hadits ini selalu dapat mempengaruhi dan mengingatkanku untuk senantiasa mawas diri. Benar sekali adanya bahwa agama itu nasehat, sebab banyak sekali perilaku dan pikiran kita yang pada dasarnya tiada lain bersumber pada pengagungan diri sendiri bisa luntur oleh nasehat-nasehat yang disampaikan secara tulus seperti ini. Apa yang dari lisan akan disimak pendegaran, namun apa yang dari hati akan menyentuh hati juga.

Advantage lainnya, di BUH sebenarnya kita punya kesempatan lebih banyak untuk ziarah-ziarah dibanding teman-teman yang ditugaskan di Daker. Kita bisa mensinkronkan perjalanan-perjalanan dengan jadwal operasional, juga kita diberi fasilitas kendaraan kantor dengan supir yang lagi bebas, ataupun minjam mobil dan supir bos. Kalaupun akhirnya kami waktu itu tidak begitu sering ziarah, mungkin karena rata-rata kami masih kurang pengalaman kerja di BUH sehingga belum bisa mengatur waktu kerja seefisien mungkin hingga punya cukup waktu luang untuk istirahat dan ziarah.

Banyak hal yang ku lihat di sini, baik yang pantas diteladani, ataupun yang perlu diantisipasi. Ini semua adalah satu lagi tahapan belajar yang seharusnya menjadikanku waspada. Tapi tak perlulah terlalu banyak berobsesi. Yang terpenting kan bukan tujuan atau apa yang ingin kita wujudkan, tetapi proses atau apa yang saat ini kita lakukan.

***

Di atas itu semua, perjalanan ke Saudi ini adalah perjalanan terindah dalam rentang perantauanku. Banyak sekali cerita untuk mengatakan itu. Tapi satu hal yang paling penting adalah karena ini untuk kedua kalinya aku naik haji, dan untuk kedua kalinya juga aku berhaji dengan Bapak. Ibu juga datang berhaji, dan ini untuk pertama kalinya kami haji bersama-sama bertiga. Menurut cerita Ibu, kala pertama kali naik haji, dia berdoa agar diberi lagi kesempatan untuk berhaji bersama-sama dengan Bapak. Kiranya ini adalah jawaban Tuhan atas doa itu.

Tak terbayang kerinduan yang terjerat di kasa-kasa hati kami selama ini. Dan seperti biasa, ketika bertemu adalah tangisan Ibu, dan senyuman Bapak. Aku seperti biasanya sangat sukar untuk menangis. Hal ini sudah jadi pembawaanku sejak masih di MAPK-UP, saat-saat pulang ke rumah adalah saat-saat yang paling membahagiakan, di mana episode-episode Ibu yang menangis, Bapak yang tersenyum, dan aku yang memeluk Ibu, mencium kakinya, lalu meletakkan kepalaku di pangkuannya selalu terulang. Aku kira inilah pembawaanku, selalu ingin tegar menopang perasaan, meski di dalam dada pekak oleh jerit-jerit kerinduan. Ibu memeluk seerat dia bisa. Aku membayangkan saat-saat berbaring di pangkuan dan pelukannya semasa aku masih kecil hingga remaja. Aku mungkin satu-satunya anak dia yang masih sering tidur dipeluknya setelah beranjak remaja. Kakak-kakak bahkan adik-adikku mungkin tidak sekolokan ini. Selalu sukar rasanya menjauhkan diri dari peluknya.

ah… Ibu,
saat ananda menulis beberapa baris kata ini
ananda tak tahu rasa apa yang tengah berlaku ini
serasa menghiris, tajam sekali
sakit sekali rasanya kerinduan ini

Bapak… Bapak lain lagi. Rasanya susah membayangkan suatu saat nanti aku mampu setegar Bapak. Seperti saat pertemuan ini, Bapak hanya tertawa saat melihatku. Aku dapat merasakan tawa Bapak, betapa tak tertahankannya membiarkan seorang buah hati hidup jauh darinya. Bapak dengan azamnya telah melepaskan anak kesayangannya, menjauh, mencari sasarannya sendiri. Aku dapat merasakan betapa dia menunggu sang anak pulang kembali ke rengkuhnya. Bapak, aku bangga menatap sungging senyumnya. Menjadi anaknya adalah karunia terindah bagi hidupku. Selama ini dia tak memberikan kepadaku kecuali cinta, dan karenanya inilah satu-satunya hal yang dapat memenuhi seluruh rongga hatiku.

Betapa sia-sianya hidup jika tak mampu membahagiakan Bapak dan Ibu, tak berartinya hidup jika tak juga mengerti bahwa cinta-lah ilmu yang Bapak dan Ibu ingin wariskan kepadaku dengan melepasku menempuh langkah meniti hasrat hati. Betapa aku terlalu naif, memerlukan masa, menempuh jarak, dan mengorbankan perasaan, hanya untuk memahaminya. Aku, selama ini aku buta, terlalu asik mengejar cinta, dan melupakan betapa cinta itu telah dan akan selalu ada.

Perjalanan kali ini meresume semua perjalanan hati selama ini. Cinta adalah kenyataan. Di atas bumi Tuhan kita melihat cinta namun tak merasakannya, lalu kita mencari-cari cinta yang telah kita lukiskan sesuai dengan imaji kita. Ah, cinta seperti itu, mungkinkah ketulusan terwujud di situ?

(Kilas Balik, awal 2005 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s