perjalanan hati

Tentu hal yang lumrah sekali jika seorang lelaki seumurku selalu terkenang kepada Baitullah dan Tanah Suci. Rasanya hari-hari yang ku lalui semakin penuh dengan kerinduan, setiap kali terbayang akan Ka’bah, Ma’asyir dan Madinah Nabi, selalu seja terasa ada yang bergejolak dalam diri. Mendengar kisah-kisah mereka yang kembali dari menunaikan umrah atau haji, mendengar anama-nama yang abadi itu disebut-sebut dalam tone yang penuh kesan dan kenangan indah, terasa kerinduan ini semakin dahaga. Aku ingin sekali kembali berhaji.

Kerap aku membayangkan diri sebagai seorang avonturir yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ada beberapa tempat yang telah menemukan cluster teraman di hatiku, yang angan untuk melakukan perjalanan dan mereguk kenangan di tempat-tempat itu selalu menghias mimpi-mimpi egoku. Namun semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kerinduan yang berdentam-dentam di setiap malam, saat aku teringat untuk shalat lail di kala semua yang di sekitarku terlelap, saat sendiri menekan tuts-tuts piano atau memetik dawai-dawai gitar di kala teman-teman beristirahat setelah capek seharian, saat berjalan sendiri di sudut-sudut kota tua Tunez, saat … Rindu itu, rindu akan kesempatan untuk bersujud di kaki Ka’bah, dan memohonkan pengampunan akan semua kelalaian dan dosa yang masih saja jadi penghias utama perbuatan, pikiran dan perasaanku, di usia yang semakin jauh menapak dari bidayah.

kau,
engkau saja yang mengerti rindu dahaga ini
izinkan ku mencium bumi
bersujud di pintu rumahmu
memohon ampunan
bagi dosa-dosa kebodohan
atas nama kami semua
memohon kau buka pintu
kebahagiaan
kedamaian
kasih sayang
cinta
terwujud di antara kami…

Azam untuk berhaji kembali sudah jadi penghias siang dan malam yang ku lalui. Aku mempersiapkan diri, terutama batin ini, berusaha untuk melaui hari-hari tanpa fusuq, jidal dan rafats sebagaimana tuntunan al-Qur’an kepada mereka yang hendak berhaji. Detik demi detik adalah bilangan asyhur ma’lumat yang memotivasi penyucian hati. Terasa sekali, purity bukan hal yang dekat dengan hatiku, terlalu berat rasanya untuk mencapai kemurnian seorang muslim. Namun ku yakin, ku tak sedang terbuai dalam angan-angan kosong tentang itu semua… Bukankah kewajiban seorang manusia hanya berusaha menerima dirinya apa adanya? Baik atau jahat diri ini adalah kenyataan, bagaimana mungkin lari dari kenyataan?

Karena itulah, tekadku semakin bulat: aku harus melakukan perjalanan hati ini…

(Kilas Balik, medio 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s